Keanggunan Bumi Kartini tak hanya terpancar dari ukiran-ukiran di kerajinan jatinya. Keindahan dan keunikan lainnya dapat kita temui di sebuah Desa di daerah Pecangaan, sekitar 15 km dari kota Jepara. Desa tersebut bernama Desa Troso,yang juga merupakan desa penghasil kerajinan tenun ikat yang sengaja dinamakan sama dengan tempatnya dibuat, Kain Troso.
Dari jalan raya, kita akan disambut oleh gapura besar bertuliskan “Selamat Datang di Desa Troso”, yang menandai betapa desa ini layak dijadikan sebagai tempat wisata belanja. Sepanjang jalan kita akan menyusuri beberapa toko dan home industry yang juga sekaligus dijadikan sebagai galeri. Di kanan dan kiri jalan, berhadapan, hampir setiap rumah disana adalah pengrajin kain troso. Sangat banyak pilihan memang, tapi yang jelas, yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan adalah toko yang cukup besar dengan koleksi kain yang banyak.
Diantara banyaknya industri tekstil beraneka bahan yang diproduksi menggunakan mesin, industry tekstil Desa Troso terus mempertahankan kualitas handmade. Ya, kain yang diproduksi oleh para pengrajin tekstil setiap harinya, murni buatan tangan dengan menggerakkan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Kain Troso pun memiliki kelebihan tidak luntur, awet dan tahan lama. Ada beberapa toko yang selain menjual kain tenun, toko tersebut juga memperlihatkan para pembeli tentang proses produksi kain troso dari awal hingga akhir. Pembeli akan diajak ke belakang toko untuk melihat para pengrajin berkutat dengan ATBM, dan hal tersebut merupakan nilai tambah dari sellingpoint yang ada.
| Gapura Sentra Tenun Troso |
![]() |
| Salah satu jenis kain tenun ikat |
Di Jepara, Kerajinan kain tenun Troso ini sangat termasyhur. Dulu, setiap hari Kamis dan Jum’at, pakaian berbahan kain motif Troso ditetapkan sebagai seragam bagi para PNS. Para pengrajin pun terus menyesuaikan produknya dengan model dan selera masyarakat dari zaman ke zaman. Pangsa pasar mereka tidak hanya bagi masyarakat Jawa Tengah saja, melainkan juga merambah ke kota-kota besar lainnya di Indonesia, khususnya Bali, Yogyakarta dan Jakarta. Kerajinan kain tenun Troso bahkan telah merambah ke dunia internasional, seperti ke Negara Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.
Jika anda mengunjungi tempat ini, tentunya harus menggunakan kendaraan pribadi (jika ingin berhenti di beberapa tempat), karena jika menggunakan kendaraan umum, tetap diperlukan kendaraan untuk menjelajahi Desa Troso. Untuk opsional menyusuri Desa Troso dengan kendaraan umum, bisa menggunakan ojek atau dokar (delman). Sepanjang jalan kita akan menemukan banyak sekali pilihan toko-toko yang menyediakan kain tenun Troso.
Kain Troso tak jauh beda dengan batik. Ya, unik, menarik, dan khas Indonesia. Dengan model dan coraknya yang eksklusif, kerajinan ini patut kita banggakan dan lestarikan. Khususnya kepada para penggiat fashion, mari kita angkat brand dan citra budaya lokal kain Troso ini! :D
